top of page
Search

10 Aturan Gaya Penulisan oleh Friedrich Nietzche Sang Pencipta "Zarathustra"

  • Writer: Pembela Pers
    Pembela Pers
  • Feb 14, 2022
  • 2 min read

Pembela Pers - 14 Februari 2022, Menganalisis salah satu buku berjudul “Nietzche” yang ditulis oleh salah satu penyair, novelis, kritikus, dan psikolog wanita pertama kelahiran Rusia Lou Andreas-Salomé.

Ditilik Dari kesana Salomé karena efek dari pemikiran Nietzsche, mencapai pendewaannya dalam novel filosofinya, yaitu dengan judul Ucapkan Zarathustra “Thus Spoke Zarathustra". Sebagai ahli teori perwujudan suatu gagasan, tentang hubungannya yang tak terpisahkan dengan fisik dan sosial. Nietzsche memiliki beberapa gagasan yang sangat spesifik tentang gaya sastra yang ditulis Salomé dalam catatan berjudul "Menuju Pengajaran Gaya." Jauh sebelum para penulis mulai mengeluarkan teori teori yang serupa dengan catatan ini. Nietzsche menetapkan sepuluh aturan gaya penulisan, yaitu : 1. Kebutuhan utama adalah hidup: sebuah gaya harus hidup. 2. Gaya harus sesuai dengan orang tertentu yang ingin Anda ajak berinteraksi. (Hukum hubungan timbal balik.) 3. Seseorang harus menentukan dengan tepat "apa-dan-apa yang ingin saya katakan dan sajikan," sebelum Anda menulis, harus diketahui jika menulis itu harus memiliki mimikri. 4. Ia harus memiliki interpretasi yang sangat ekspresif untuk tulisannya. 5. Seseorang harus belajar untuk merasakan semua elemen penulisan — panjang dan pendeknya kalimat, interpunctuations, pilihan kata, jeda dan urutan argumen. 6. Hati-hati dengan jeda. 7. Gaya harus membuktikan bahwa seseorang percaya pada suatu ide; tidak hanya orang yang memikirkannya tetapi juga merasakannya. 8. Semakin abstrak suatu kebenaran yang ingin diajarkan seseorang, semakin ia harus memikat indra. 9. Strategi di pihak penulis prosa yang baik terdiri dari memilih sarananya untuk melangkah mendekati puisi tetapi tidak pernah melangkah ke dalamnya. 10. Sopan santun atau kepintaran adalah cara untuk menghilangkan rasa keberatan dari pembaca. Sopan santun yang sangat baik dan sangat pintar kepada pembaca adalah cara untuk mengucapkan intisari tertinggi dari kebijaksanaan kita.

Kita bebas untuk melakukannya atau mengabaikannya, aturan ini sesuai dengan keinginan kita. Tapi sebisa mungkin kita tidak boleh mengabaikan cara-cara itu. Sementara perspektivisme Nietzsche telah (salah) ditafsirkan sebagai subjek-subjek yang ceroboh seperti contohnya adalah dipraktekan kepada pemujaannya terhadap barang antik yang menempatkan value tinggi. Dalam Prosanya, bisa kita katakan atau dianalogikan “berada dalam ketegangan antara pengabaian Dionysian dan dinginnya Apollonian” dan juga aturan yang telah kita bahas itu pernah dibahas oleh profesor seni liberal sebagai Trivium: tata bahasa, retorika, dan logika: tiga pendukung tulisan yang bergerak, ekspresif, persuasif. (Trivium adalah jenjang yang lebih rendah dari tujuh seni liberal)

Salomé sangat terkesan dengan aturan aforistik ini sehingga dia memasukkannya ke dalam biografinya, dengan mengatakan, “mengkaji gaya Nietzsche untuk sebab dan kondisi berarti lebih dari sekadar mengetahui bentuk di mana ide-idenya diungkapkan; yang artinya, itu berarti bahwa kita dapat mendengarkan suara batinnya.”

Ia menulis dalam studinya bahwa "Nietzsche tidak hanya menguasai bahasa tetapi juga melampaui kekurangannya." (Seperti yang dikomentari oleh Hugo Drochon, dia perlu menciptakan "bahasa saya sendiri.")

 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


Post: Blog2_Post

0895334836657

©2022 by Pembela Pers. Proudly created with Wix.com

bottom of page