top of page
Search

Aksi Heroik Pejuang Dalam Peristiwa Agresi Militer Belanda II

  • Writer: Pembela Pers
    Pembela Pers
  • Aug 20, 2022
  • 3 min read

Foto: Koleksi The Wereldmuseum Rotterdam

Sepanjang tahun 1948-1949 terjadi aksi heroik pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Ibukota Yogyakarta. Agresi Militer Belanda II, atau dikenal juga Operatie Kraai pecah di Ibukota Negara yang baru mendeklarasikan kemerdekaan itu. Agresi Militer Belanda II dipimpin oleh Jenderal Simon Hendrik Spoor, seorang perwira tinggi Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL).


Belanda yang ingin kembali melanggengkan kekuasaannya di tanah air melancarkan operasi militer untuk menahan dan menangkap para pemimpin Republik Indonesia. Peristiwa bermula ketika pasukan khusus KNIL, Koorps Spesial Tropen (KST) menggempur Pangkalan Udara Maguwo. Dengan cepat Maguwo menjadi medan pertempuran sengit, dan akhirnya berhasil dikuasai oleh Militer Belanda.


Setelah jatuhnya Pangkalan Udara Maguwo, serdadu militer Belanda berhasil menguasai Ibukota. Para pemimpin Indonesia, seperti Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Haji Agus Salim diasingkan ke Brastagi, Sumatera Utara. Menyusul, tokoh-tokoh bangsa lainnya pun, macam Mohammad Hatta dan Surya Darma diasingkan oleh Belanda ke Pulau Bangka.


Di lain tempat, Jenderal Besar Soedirman yang sudah mengetahui kabar mengenai kejatuhan Ibukota Yogyakarta tidak tinggal diam dan merencanakan perang gerilya untuk merebutkan kembali Ibukota yang dikuasai oleh Militer Belanda.


Selama bergerilya kondisi Jenderal Besar Soedirman dalam kondisi sakit parah, menderita tuberculosis. Meskipun sakit parah, sang Jenderal yang sampai harus ditandu tetap menggalang kekuatan TNI untuk memimpin perang gerilya. Sepanjang akhir tahun 1948 sampai awal tahun 1949, Jenderal Besar Soedirman dan TNI melakukan serangkaian penyerangan terhadap pos-pos yang dijaga tentara Belanda.


Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang merasa geram akibat para pemimpin Republik Indonesia diasingkan, segera membuat dan mengirimkan surat kepada Jenderal Besar Soedirman yang berisi permintaan untuk melancarkan serangan kepada Belanda dan merebut kembali Ibukota.


Tak lama surat balasan dari Jenderal Besar Soedirman sampai kepada sultan, yang isinya meminta sultan untuk membicarakan serangan itu kepada Komandan Wehkreise III, Letkol Soeharto. Setelah mengetahui instruksi dari Panglima TNI yang disampaikan oleh sultan, maka tanpa ragu Letkol Soeharto menyetujui dan segera merencanakan serangan. Disepakati bahwa serangan itu akan dilakukan pada tanggal 1 Maret 1949. Kemudian peristiwa tersebut lebih dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949.


Sekitar 2000 orang pasukan yang terdiri dari 7 sub Wehkreise telah siap siaga untuk melakukan serangan. Dengan penuh semangat, tepat pukul 6 pagi saat suara sirine berbunyi para pejuang mulai menyusup ke kota Yogyakarta dari segala sisi. Dengan kondisi Militer Belanda yang sedang lengah tidak siap untuk berperang, para pejuang berhasil memanfaatkan keadaan dan memaksimalkan serangan.


Di sisi lain, Kolonel Bambang Sugeng dan Dr. Wiliater Hutagalung sudah menyiapkan beberapa orang tentara pelajar berpakaian lengkap TNI, mereka ditugaskan untuk menerobos Hotel Merdeka dan mengadakan konferensi pers. Konferensi pers ini sengaja digelar agar publik mengetahui bahwa Militer Indonesia dapat melawan Militer Belanda. Serta membuktikan bahwa Republik Indonesia masih berdiri.


Menjelang siang hari, bala bantuan Militer Belanda yang datang dari arah Magelang tiba di Yogyakarta. Mengetahui kondisi yang semakin sulit, Letkol Soeharto memerintahkan pasukannya untuk mundur. Sekitar jam 12 siang Serangan Umum 1 Maret 1945 berakhir.


Meskipun hanya berhasil menguasai Ibukota Yogyakarta dalam hitungan jam, tetapi serangan umum itu berhasil membuat Militer Belanda kewalahan. Peristiwa heroik para pejuang ini pun mendapat sorotan pemberitaan internasional.


Pada 14 April 1949, PBB menginisiasi perundingan antara pemerintah Indonesia dengan Belanda di Hotel Des Indes, Jakarta. Pada perundingan ini, pihak Indonesia diwakili oleh Mohammad Roem dan pihak Belanda diwakili oleh Herman Van Royen. Inilah yang kita kenal sekarang sebagai Perjanjian Roem-Royen.


Perjanjian Roem-Royen menghasilkan beberapa kesepakatan penting, diantaranya pihak Indonesia menyetujui akan menghentikan semua aktivitas perang gerilya dan akan menhadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.


Sementara itu, pihak Belanda berjanji akan mengembalikan Yogyakarta ke tangan Indonesia. Lalu, akan menghentikan segala bentuk operasi militernya di Indonesia dan membebaskan para tawanan perang.


Penulis: Koswara


 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


Post: Blog2_Post

0895334836657

©2022 by Pembela Pers. Proudly created with Wix.com

bottom of page