top of page
Search

Hidup Di Antara Jutaan Sampah

  • Writer: Pembela Pers
    Pembela Pers
  • May 11, 2022
  • 2 min read

Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia. Bantargebang, merupakan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) yang berada di Bekasi. Walaupun TPST Bantargebang terletak di Bekasi, namun status tanah dimiliki oleh Pemprov DKI Jakarta.


Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir seluruh negara di dunia. Tidak hanya negara berkembang, tetapi juga negara-negara maju, sampah selalu menjadi masalah. Rata-rata setiap harinya kota-kota besar di Indonesia dapat menghasilkan puluhan ton sampah. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan bahwa produksi sampah nasional dapat mencapai sekitar 175 ribu ton per harinya.


Sampah menjadi permasalahan yang besar di Indonesia. Banyak sekali limbah sampah yang bertebaran di Indonesia. Negara ini menghasilkan 67,7 ton sampah pada tahun 2020. Sampah yang bertebaran adalah sampah yang berasal dari aktivitas rumah tangga, pasar tradisional dan kawasan. Salah satunya adalah sampah palstik yang belakangan ini sedang mengalami peningkatan. Sampah plastik merupakan hasil dari perubahan gaya hidup masyarakat.


Salah satu penyebab sampah adalah kemasan makanan dan minuman berbahan plastik. Indonesia juga termasuk ke dalam penyumbang sampah terbanyak di dunia. Data itu diperoleh dari Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAplas) dan Badan Pusat Statistik.


Ada sekitar 3,2 juta ton sampah yang di buang ke laut adalah sampah plastik. Dunia pernah digemparkan dengan sebuah kematian Paus Sperma yang ditemukan dalam keadaan mati dan membusuk di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Ditemukan sekitar 5,9 kg sampah plastik dalam tubuh Paus Sperma itu.


TPST Bantargebang menjadi salah satu TPST terbesar di Indonesia, memiliki luas total 110,3 hektar. Volume sampah di TPST Bantargebang terus meningkat sekitar 6.500-7.000 ton per hari di bawa dari DKI Jakarta. Timbunan sampah yang menumpuk itu, tidak hanya mencemarkan lingkungan saja, namun menambah produksi gas metana.


Di Area Bantargebang juga terdapat masyarakat yang tinggal di rumah-rumah semi permanen diantara tumpukan sampah. Masyarakat yang tinggal di Bantargebang bergantung hidup dari sampah. Kehidupan masyarakat di sekitaran tumpukan sampah tidak membuat mereka putus asa. Apalagi anak-anak yang tinggal di sana memiliki keinginan yang kuat untuk menggapai cita-cita.


Di sana terdapat salah satu sekolah yang menjadi tempat anak-anak Bantargebang belajar. Sekolah Alam Tunas Mulia yang berada di sekitaran Bantargebang berdiri sejak tahun 2006. Sekolah tersebut di himpit dua “gunung sampah”.


Sekolah itu didedikasikan bagi anak pemulung yang memiliki keinginan untuk mengenyam pendidikan. Alam Tunas Mulia memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak pemulung. Semangat anak-anak di sana dalam belajar sangatlah besar. Mereka tidak mempermasalahkan hidup diantara gundukan sampah.


Riset: Nurani Nabillah

Penulis: Nurani Nabillah

Foto: Wikipedia


 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


Post: Blog2_Post

0895334836657

©2022 by Pembela Pers. Proudly created with Wix.com

bottom of page