top of page
Search

Jalan Menuju Kemerdekaan: Dari Peristiwa Rengasdengklok Sampai Detik-Detik Proklamasi

  • Writer: Pembela Pers
    Pembela Pers
  • Aug 17, 2022
  • 2 min read

Foto: Arsip Nasional Republik Indonesia

14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada sekutu akibat lumpuhnya dua kota penting dalam serangan bom atom oleh Amerika Serikat di kota Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945. Kabar ini dengan cepat di dengar oleh golongan muda pada 15 Agustus 1945 yang dengan segera mengadakan pertemuan untuk membahas proklamasi kemerdekaan.


Mereka mengeluarkan keputusan bahwa “hak dan soal rakyat yang tak dapat digantungkan oleh orang lain,” yang berarti supaya pelaksanaan kemerdekaan ini dilepaskan dari segala ikatan dan hubungan perjanjian kemerdekaan yang diberikan oleh Jepang.

Keputusan dari pertemuan ini dengan segera disampaikan kepada Soekarno pada malam harinya tetapi ditolak karena menurut Bung Besar proklamasi kemerdekaan harus dibahas terlebih dahulu dalam rapat PPKI.


Karena penolakan tersebut golongan muda melakukan diskusi dengan beberapa tokoh lainnya untuk melakukan pengasingan ke luar kota terhadap Soekarno dan Hatta agar terhindar dari pengaruh Jepang, sehingga segera memutuskan waktu proklamasi kemerdekaan Indonesia.


Puncaknya pada 16 Agustus 1945 sekitar pukul 04.00 dini hari golongan muda bersama salah satu anggota PETA menculik Soekarno dan Hatta ke wilayah Rengasdengklok, disertai Fatmawati dan putranya Guntur. Soekarno dijaga ketat oleh Komandan Kompi PETA, Cudanco Subeno. Di Rengasdengklok, Golongan Muda berusaha meyakinkan Soekarno untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan mengingat sedang adanya kekosongan kekuasaan setelah Jepang menyerah kepada sekutu.


Sementara itu di Jakarta terjadi diskusi antara golongan muda dan golongan tua dan beberapa anggota BPUPKI dan PPKI, mereka meyakinkan golongan tua bahwa bangsa Indonesia harus merdeka dengan caranya sendiri agar tidak ada anggapan bahwa kemerdekaan sebagai hadiah dari Jepang.


Kemudian diperoleh kesepakatan bahwa proklamasi kemerdekaan harus dilaksanakan di Jakarta. Setelah perundingan, Yusuf Kunto dari golongan muda mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok bersama-sama menjemput Bung Karno dan Bung Hatta untuk kembali ke Jakarta. Sebagai jaminannya Achmad Soebardjo menjanjikan agar proklamasi kemerdekaan dilakukan secepatnya.


Setelah penjemputan tersebut, Soekarno dan Hatta langsung dibawa ke kediaman Laksamana Maeda seorang perwakilan Kepala Angkatan Laut Jepang untuk merumuskan Naskah Proklamasi pada malam hari tanggal 16 Agustus 1945.


Malam itu juga, segera dilaksanakanlah musyawarah antara golongan muda dan golongan tua dalam rangka menyusun naskah proklamasi. Penyusunan naskah proklamasi tersebut berjalan lancar dengan kalimat pertama dalam naskah tersebut adalah hasil dari gagasan Bung Karno dan Ahmad Soebardjo dan kalimat terakhir adalah gagasan dari Bung Hatta.


Setelah naskah proklamasi selesai Soekarno dan Hatta mengusulkan bahwa naskah tersebut harus ditandatangani oleh segenap hadirin. Namun Soekarni mengusulakan bahwa sebaiknya naskah tersebut ditandantangani oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta dengan “Atas Nama Bangsa Indonesia”, usulan tersebut diterima oleh seluruh hadirin dan dilanjutkan pengetikan naskah oleh Sayuti Melik.


Pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya dengan pembacaan Proklamasi oleh Soekarno serta pengibaran bendera merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, bertempat di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pukul 10.00 WIB.


Penulis: Dirfas Laudza Kusuma

Penyunting: Koswara

Desain: Nurani Nabillah


 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


Post: Blog2_Post

0895334836657

©2022 by Pembela Pers. Proudly created with Wix.com

bottom of page