top of page
Search

Problematika Hilangnya Harmoni Manusia Dengan Alam

  • Writer: Pembela Pers
    Pembela Pers
  • Apr 22, 2022
  • 2 min read

Ilustrasi: Rivaldi/Pembela

Ada yang menengarai di negeri ini : penguasa, pembuat hukum dan penegaknya terjebak dalam banalitas. Hal ini dapat kita lihat dari Peraturan Pemerintah Nomor 2/2008, yang melalui PP ini hutan lindung kita diobral murah, sekitar Rp.1,2 juta sampai Rp.3 juta per hektare per tahun untuk kegiatan tambang, energi, infrastruktur telekomunikasi, dan sebagainya.


Banalitas jelas ada di balik penerbitan Peraturan pemerintah itu. Sebab, dengan demikian, hutan lindung yang tinggal 11,4 juta hektar terancam keberadaannya. Hutan lindung yang mampu menyerap air, menahan banjir, melindungi flora dan fauna di dalamnya, dan sebagian kehidupan manusia amat tergantung pada kelangsungan kelestarian hutan. Sebab hutang lindung yang menjadi paru-paru dunia kini ada dalam bahaya. Bahaya bagi keberadaan hutan itu dan bahaya pula bagi kita semua.


Dengan rusaknya hutan lindung, manusia tinggal menunggu bencana apa lagi yang akan menimpa di masa depan. Padahal, kita sudah menyaksikan beragam bencana yang dikarenakan deforestasi. Sudah banyak cerita duka tentang bencana alam yang dialami manusia akibat eksplorasi pertambangan di kawasan hutan lindung. Hutan yang sejak lama menjadi sumber kehidupan, kini menjadi sumber malapetaka. Flora dan fauna di dalamnya menjadi punah akibat aktivitas pertambangan dan pembalakan liar.


Hampir semua ekosistem terancam oleh kerusakan dan degradasi yang disebabkan oleh manusia. Namun kekhawatiran yang utama adalah hilangnya beberapa ekosistem yang memainkan peran penting dalam proses evolusi yang meliputi terumbu karang, danau-danau tua, daerah padang surut dan hutan tropik. Hutan-hutan yang disebut "pusat daya evolusi" ini, menunjukkan laju diversifikasievolusi tertinggi. Bersama dengan bioma lainnya, mereka adalah "rahim kehidupan" yang kaya akan spesies. Lalu perubahan iklim yang dipicu oleh pemanasan global. mengakibatkan bumi semakin panas. Bumi yang kian panas jelas menjadi tempat yang tidak nyaman untuk hidup.


Dampak dan masalah perubahan iklim begitu besar dan kompleks di sebuah dunia yang kecil dengan 6,5 miliar manusia. Populasi ini akan terus bertambah, sementara sumber daya untuk pangan atau energi kian terbatas. Dengan demikian, perubahan iklim bukan lagi sekadar masalah lingkungan, melainkan sudah menjadi masalah fundamental karena bisa mengancam perdamaian dan martabat miliaran makhluk hidup lain. Di masa yang akan datang, perubahan iklim dapat menjadi ancaman utama yang harus dihadapi oleh semua makhluk hidup.


Perubahan iklim tampaknya sudah mulai terjadi dalam tempo yang lebih cepat dari pada sebelumnya dan ini berakibat drastis pada hampir seluruh ekosistem. Banyak habitat alami kini terpecah-pecah menjadi "pulau-pulau" di tengah-tengah lautan luas tanah bekas pertanian dan industri. Karena fragmentasi habitat, spesies yang dapat bergerak sekalipun tak dapat bermigrasi ke daerah-daerah yang lebih sesuai ketika mereka menghadapi perubahan iklim. Konsekuensi evolusioner dari perubahan komposisi atmosfir bumi masih belum diketahui, tetapi pengetahuan saat ini menunjukkan bahwa banyak organisme yang sangat peka terhadap fluktuasi konsentrasi karbondioksida (CO2) di atmosfir.


Oleh sebab itu, seharusnya detik ini juga, ancaman perubahan iklim menuntut kita mengubah kebiasaan hidup. Sebuah tindakan nyata harus diambil dari semua pihak. Kita semua dapat terlibat dan membuat perubahan; sebagai individu, keluarga, komunitas, anggota suatu bangsa, atau bagian dari planet ini.


Penulis: Rivaldi

 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


Post: Blog2_Post

0895334836657

©2022 by Pembela Pers. Proudly created with Wix.com

bottom of page